Trump Bela Israel, Ginting–Hendrajit: Konflik Timur Tengah Kian Sulit Diredam

Jakarta, 6 Mei 2026 – Dukungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Israel dinilai memperumit upaya perdamaian dan berpotensi memperpanjang konflik di kawasan Timur Tengah. Sikap tersebut dianggap memperkuat posisi Israel di tengah eskalasi konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda mereda.
Dalam diskusi yang disiarkan tvOne, pengamat militer dan politik, Selamat Ginting, menegaskan bahwa konflik Israel–Palestina tidak bisa dipandang sebagai konflik lokal semata, melainkan bagian dari kepentingan global yang lebih besar.
“Konflik ini bukan semata konflik lokal, tetapi ada kepentingan global di dalamnya. Dukungan Amerika, termasuk dari Trump, membuat posisi Israel semakin kuat, baik secara politik maupun militer.” Ujar Ginting.
Konflik yang terjadi di wilayah Israel dan Palestina terus memicu ketegangan dan kekerasan. Serangan demi serangan dilaporkan masih berlangsung, menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur termasuk fasilitas publik dan permukiman warga.
Ginting menilai, dukungan politik dari kekuatan besar menciptakan ketidakseimbangan dalam proses diplomasi internasional. Kondisi ini, menurut dia membuat salah satu pihak memiliki legitimasi lebih besar untuk mengambil langkah militer.
“Kalau ada dukungan kuat dari kekuatan besar, maka ada keberanian lebih untuk melanjutkan operasi. Ini yang membuat konflik sulit berhenti.” Ujarnya.
Sementara itu, analis geopolitik Hendrajit melihat konflik tersebut sebagai bagian dari pertarungan pengaruh global yang lebih luas. Ia menilai kawasan Timur Tengah kerap menjadi arena tarik-menarik kepentingan negara besar.
“Ini bukan hanya soal Israel dan Palestina. Ini bagian dari pertarungan kepentingan global. Selama kepentingan itu masih bermain, konflik akan terus berulang.” Kata Hendrajit.
Menurut Hendrajit, keterlibatan aktor global membuat penyelesaian konflik tidak hanya bergantung pada kedua pihak yang bertikai, tetapi juga pada dinamika politik internasional yang lebih kompleks.
Ia menambahkan, konflik di Timur Tengah sering kali dimanfaatkan sebagai instrumen geopolitik, sehingga sulit mencapai solusi damai yang benar-benar permanen.
Dampak dari konflik ini tidak hanya dirasakan dalam aspek keamanan, tetapi juga pada kondisi kemanusiaan. Warga sipil menjadi kelompok paling terdampak, dengan meningkatnya jumlah korban, pengungsian, serta keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Di sisi lain, berbagai upaya diplomasi terus dilakukan oleh komunitas internasional. Namun, perbedaan kepentingan politik antarnegara dinilai masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan damai yang berkelanjutan.
Baik Ginting maupun Hendrajit sepakat bahwa tanpa adanya pendekatan yang lebih netral dan seimbang dari aktor global, konflik di kawasan tersebut berpotensi terus berlarut dan semakin sulit diselesaikan.
Berita oleh Abdul Kholiq