Meletusnya Perang AS-Israel versus Iran, Dampaknya terhadap Stabilitas Ekonomi Indonesia

Pasca meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan gabungan antara AS dan Israel yang menargetkan situs militer dan pemerintahan Iran, pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat membuat situasi di wilayah timur Tengah semakin memanas.
Mengutip dari situs berita Aljazeera dan Media Iran. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional. Dilansir dari Kompas.com, akibat dari serangan ini juga menewaskan putri, menantu, dan cucu pemimpin tertinggi di wilayah tersebut.
“Setelah menjalin kontak dengan sumber-sumber terpercaya di lingkungan kediaman Pemimpin Tertinggi, kabar tentang gugurnya putri, menantu, dan cucu pemimpin revolusioner sayangnya telah dikonfirmasi,” demikian dilaporkan kantor berita Fars dan media Iran lainnya, dilansir dari kompas.com.
Menurut laporan media Iran Bulan Sabit Merah, serangan udara pada hari Sabtu di Iran juga menargetkan 24 provinsi, sehingga menewaskan sedikitnya 201 orang. Di antara serangan itu, Israel menyerang dua sekolah dasar putri Shajareh Tayyebah di kota Minab Selatan. Akibat dari serangan tersebut menewaskan 108 orang dan dua orang lainnya di sekolah sebelah timur ibu kota, Teheran.
Mengutip dari detiknews hingga berita ini ditulis, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat rentetan serangan AS dan Israel kembali bertambah. Lebih dari 780 orang tewas di berbagai wilayah Iran.
“Menurut laporan lapangan dari tim operasional, sangat disayangkan, sedikitnya 787 warga negara ini telah martir dalam serangan-serangan ini,” kata Bulan Sabit Merah Iran dalam pernyataan terbaru via situs resminya, seperti dilansir AFP, Selasa (3/3/2026).
Melansir dari Al Jazeera, menyusul dari kematian Ayatollah Ali Khamenei, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan akan memulai operasi ofensif serangan terhadap AS dan Israel. Pernyataan tersebut diterbitkan oleh kantor berita Fars pada Minggu (1/3/2026). IRGC menegaskan akan menargetkan wilayah pendudukan dan pangkalan Amerika di Timur Tengah. Serangan balasan Iran pada hari Sabtu, memicu pencegatan pertahanan udara di wilayah pangkalan udara AS, termasuk Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Garda Revolusi Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz karena kondisi keamanan. Akibat dari penutupan rute utama pasokan energi dunia tersebut, berpotensi mengganggu perdagangan minyak dan gas global. Kondisi ini justru mempengaruhi Indonesia sebagai salah satu negara pengimpor minyak.
Mengutip dari DetikSumbangsel, melalui laman Fmipa Universitas Negeri Surabaya, pemberlakukan penutupan Selat Hormuz berpotensi pada kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas, serta potensi kenaikan harga energi domestik. Kenaikan harga energi tersebut dapat berdampak pada sektor transportasi, distribusi barang kebutuhan pokok, serta biaya produksi industri.
Komoditas yang paling cepat dirasakan masyarakat meliputi bahan bakar kendaraan, listrik berbasis bahan bakar fosil, serta harga barang kebutuhan pokok yang diproduksi dengan energi intensif. Kondisi ini berisiko mendorong kenaikan harga konsumen sehingga memengaruhi daya beli masyarakat.
Mengutip dari MediaIndonesia, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, ia menegaskan dampak perang di timur tengah terhadap ekonomi nasional masih terbatas, kecuali jika terjadi gangguan besar pada jalur energi dunia. Susiwijono menilai resiliensi ekonomi Indonesia masih tinggi di antara negara-negara G20.
Namun, Susiwijono menyebut situasi bisa berubah semakin menjadi ancaman, apabila terjadi penutupan jalur Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis dunia. Jika terjadi penutupan pada jalur tersebut, maka akan berdampak pada kenaikan harga minyak yang berdampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama terhadap subsidi energi.
“Sensitivitas APBN kita soal energi tinggi. Setiap harga minyak naik US$1, pemerintah harus menambah subsidi sekitar Rp10,3 triliun, sementara penerimaan negara bukan pajak hanya sekitar Rp3 triliun. Jadi defisit sekitar Rp6 triliun,” ungkapnya dikutip dari MediaIndonesia.
Gangguan geopolitik juga memicu pembatasan pergerakan komoditas global yang berujung pada risiko inflasi dan kenaikan suku bunga. Dalam kondisi tersebut, bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga untuk menahan lonjakan inflasi, sehingga memperhambat pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, ketidakpastian global akan mendorong investor untuk mencari aset aman seperti emas yang menyebabkan terjadinya capital outflow, tekanan terhadap nilai tukar rupiah sehingga meningkatkn biaya impor serta beban utang pemerintah.
Melansir dari kompas.com, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini diambil sebagai proses pengalihan sumber impor minyak yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Saat ini, pemerintah telah meningkatkan kapasitas cadangan minyak nasional, kemampuan penyimpanan minyak Indonesia hanya cukup sekitar 25 hingga 26 hari.
Kedepannya kapasitas tersebut direncanakan akan mencapai target sekitar 90 hari atau sekitar tiga bulan sesuai dengan standar nasional. Untuk merealisasikan hal itu, pemerintah telah membangun storage kombinasi antara investor dalam dan luar negeri.
Dibuat oleh: Keysa Nurunnisa