FISIP Unas-Himaya Studio Lakukan Diskusi Panel Film “Dilarang Menyanyi Dikamar Mandi”

FISIP Unas-Himaya Studio Lakukan Diskusi Panel Film “Dilarang Menyanyi Dikamar Mandi”

JAKARTA (Unas) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (FISIP UNAS) bersama Himaya Studio lakukan diskusi panel film “Dilarang Menyanyi Dikamar Mandi”, pada Senin (9/7). Diskusi berkonsep akademik ini diisi dengan penyampaian materi oleh Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unas, Dr. Dwi Kartikawati, M.Si.

Bertemakan “Prasangka Buruk dan Hoaks adalah Musuh Bersama,” diskusi ini juga dihadiri oleh penulis dan pemain film tersebut yang memberikan pengalaman serta wawasannya dalam dunia perfilman.  Adapun yang hadir seperti Budayawan dan Rektor Institut Kesenian Jakarta, Seno Gumira Ajidarma, Miss Indonesia Maluku Utara 2019 Kathy Monika, serta Aktor film Totos Rasiti dan Ricky Malau.

Berkaitan dengan film tersebut, Dwi mengatakan, film ini terdapat sesuatu makna yang bukan apa adanya, tetapi ada sebuah proses yang disebut konstruksi hal yang sengaja dibuat. “Di trailer film sudah mendeskripsikan seorang perempuan bernama Sophie yang cantik, pintar, dan seksi yang masuk ke sebuah perkampungan dan ia merasa kehadirannya tidak diterima” jelas Dwi dalam paparan ilmiahnya.

Namun, lanjut Dwi, dengan segala kelebihan yang dimiliki, keberadaan Sophie terus terisolir baik dari laki-laki maupun dari para istri yang tidak suka dengan kehadiran Sophie yang diibaratkan menggangu. Berkaitan dengan hal itu, menurut Dwi banyak sekali teori sosial yang bisa dibahas di film ini. Ia mengatakan ada lebih dari 15 teori komunikasi sosial yang bisa dibahas.

Menanggapi hal tersebut, penulis cerpen “Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi”,  Seno Gumira Ajidarma mengatakan, film bergenre komedi kritis ini mengisahkan mengenai cara seseorang bersikap adil dan berjimajinasi. “Harapan saya bagi siapa saja yang telah menikmati film ini bisa lebih kritis menanggapi perkembangan situasi seperti pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP Unas, Dr. Zulkarnain, M.Si. mengatakan, diskusi ini merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui sejauh mana perkembangan film nasional di Indonesia. “Jadi di setiap film pasti terdapat nilai-nilai yang dikandung yang berkaitan dengan keseharian manusia dan saya harap mahasiswa bisa memetik setiap pelajaran dari film ini,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Prof. Dr. Ernawati Sinaga, M.S., Apt. mengatakan, diskusi film ini dapat membuat mahasiswa mengambil nilai moral yang tersirat. Sementara itu, ia juga mengapresiasi penulis film ini karena telah memiliki jiwa seni yang cukup tinggi dan dapat menstranfernya ke orang banyak.

“Film juga dapat merepresentasikan budaya di masyarakat kita dan memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mempengaruhi pemikiran kita. Mudah-mudahan mahasiswa tidak hanya sebagai penikmat film saja tetapi juga bisa bersikap dan berpikir kritis dari film-film nasional sehingga bisa dijadikan suatu kajian ilmiah,” jelasnya dalam sambutan.

Penandatanganan Kerjasama

Usai dilangsungkan diskusi film, kegiatan ini juga diisi dengan penandatangan kerja sama antara FISIP UNAS dengan Cahaya Alam Film. Ditemui usai kegiatan,  Executive Producer film ini Hari Purnomo mengatakan,  kerja sama tersebut dijalin khususya dalam bidang film dan kreatif.

“Kita bukan hanya bergerak di bidang film saja mungkin sebentar lagi kita juga akan membuat pementasan drama musical mengenai sampah plastik. Ini bisa kita kerja samakan dengan teman-teman Unas. Mereka bisa terlibat di dalam pementasan tersebut,” ujarnya.

Selain itu, ia juga sangat terbuka jika ada mahasiswa Unas yang ingin membuat penelitian mengenai film ini. Hari yakin, di balik film ini ada sesuatu yang bisa ditelaah secara ilmiah oleh mahasiswa sehingga menjadi sebuah karya yang bermanfaat bagi orang banyak.

“Saya juga berharap kepada mahasiswa untuk terus menghidupi perfilman Indonesia, tontonlah film yang baik dan petiklah setiap makna yang terdapat pada film karena film dapat memperkaya wawasan dan cara pandang kita terhadap kehidupan,” ungkapnya.#NIS